PENDAHULUAN

Latar Belakang

Interaksi antara tanaman dan serangga terjadi secara komplek dan berlangsung sangat lama dan terus-menerus. Tanaman mengembangkan sistem pertahanan diri terhadap serangan serangga, sementara serangga berupaya untuk mengembangkan sistem adaptasi untuk dapat mengatasi sistem pertahanan tanaman.

Fenomena adanya interaksi antara tanaman dengan serangga herbivor telah lama diketahui, diantaranya adalah ditemukannya tanaman yang tidak atau kurang diserang hama diantara tanaman-tanaman yang dibudidayakan, sehingga tanaman tersebut memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan tanaman lainnya yang sejenis. Tanaman yang tidak atau kurang diserang oleh hama tersebut kemudian disebut sebagai tanaman resisten. Berbagai teori tentang resistensi tanaman ini kemudian dikembangkan dan dibuktikan dengan penelitian yang menunjukkan bahwa tanaman mempunyai suatu mekanisme pertahanan. Mekanisme pertahanan tanaman merupakan sebuah manifestasi respon tanaman terhadap serangan serangga herbivor untuk menghindari atau mengurangi kerusakan yang ditimbulkannya. Informasi mekanisme pertahanan tanaman terhadap serangga hama merupakan informasi yang sangat penting bagi para pemulia tanaman untuk dapat menyilangkan tanaman resisten dengan tanaman yang berproduksi tinggi, dengan harapan akan dihasilkan tanaman ideal yang resisten terhadap hama sekaligus memiliki produktivitas tinggi (Anonim, 2007).

Menurut Schoonhoven et. al. (1998) tanaman resisten dan musuh alami merupakan dua faktor dominan untuk mengendalikan populasi serangga herbivor di alam. Pada pendekatan pengendalian hama modern, pemanfaatan tanaman resisten tersebut akan menjadi faktor kunci pengaturan populasi hama pada tanaman budidaya. Varietas tanaman yang tahan terhadap hama akan selalu didambakan petani dan merupakan salah satu komponen penting dalam pengendalian hama secara terpadu, oleh karena itu pengadaannya perlu terus diupayakan. Varietas dengan ketahanan tunggal (vertical resistance) mudah patah oleh timbulnya biotipe hama baru. Karena itu perlu diupayakan untuk merilis varietas dengan ketahanan horisontal atau ketahanan ganda (multiple resistance) atau multilini.

Tujuan

Tujuan dilakukannya praktikum resistensi tanaman ini adalah untuk mengetahui beberapa mekanisme resistensi tanman akibat adanya interaksi dengan hama.

BAHAN DAN METODE

Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam praktikum resistensi tanaman adalah kurungan plastik berkasa, aspirator untuk mengambil wereng coklat, dan kertas label. Sedangkan bahan-bahan yang digunkan adalah wereng coklat (Nilaparvata lugens) nimfa instar 4 (akhir) dan tanaman padi dalam pot berumur sekitar 4 minggu setelah tanam (penyemaian 3 minggu). Tanaman padi yang digunakan adalah dari 3 varietas yang berbeda yaitu PTB 33 (tahan), IR-64 (sedang), dan TN-1 (rentan).

Metode

Sebelum praktikum dilakukan, terlebih dahulu disiapkan 3 pot tanaman padi yang berbeda varietasnya. Pada setiap pot diberikan 6 wereng coklat nimfa instar 4. Wereng coklat ini diambil dari kurungan pembiakn wereng dengan menggunkan aspirator, setelah itu dimasukkan ke dalam pot secara hatihati dengan cara meniup aspirator perlahan-lahan sehingga wereng keluar dari aspirator. Tanaman padi yang sudah diberi wereng coklat dtutupdengan plastic berkasa agar wereng tdak hilang dan tidak bertambah. Jumlah wereng antar pot tidak boleh berbeda. Setiap pot diberi label yang berisi nomor group percobaan, varietas padi dan tanggal infestasi wereng coklat. Tanaman padi dan biakan wereng dalam kurungan harus dijaga setiap hari. Pot dijaga setiap haru agar tidak kekurangan air. Perkembangan populasi wereng coklat diamati pada minggu ke-1, ke-2, dan minggu ke-3 setelah perlakuan. Pengamatan meliputi jumlah wereng coklat yang hidup pada tanamanpadi (nimfa dan imago).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Pengamatan

Perkembangan Populasi Wereng Coklat

Minggu ke- PTB-33 IR-64 TN-1
Jumlah Populasi Keadaan Tanaman Jumlah Populasi Keadaan Tanaman Jumlah Populasi Keadaan Tanaman
1 0 segar dan hijau 1 masih segar 2 kering
2 0 segar dan hijau 2 layu tapi masih terlihat hijau 0

(ada banyak laba-laba dan nyamuk)

kering
3 0 segar dan hijau 2 terlihat hijau 0 kering

Pembahasan

Resistensi tanaman adalah suatu keadaan dimana tanaman tahan terhadap serangan suatu hama. Resistensi tanman ini erat kaintanya dengan respon tanaman terhadapserangan hama dan keterkaiatn hama terhadapa tanaman. Beck (1965) mengemukakan bahwa resistensi tanaman adalah semua ciri dan sifat tanaman yang memungkinkan tanaman terhindar, mempunyai daya tahan atau daya sembuh dari serangan serangga dalam kondisi yang akan menyebabkan kerusakan lebih besar pada tanaman lain dari spesies yang sama.

Berdasarkan pengamatan yang diperoleh PTB-33 merupakan varietas tahan yang mempunyai mekanisme resistensi tanaman antisenosis terhadap respon tanaman terhadap hama. Hal ini terjadi karena semua wereng coklat dalam tanaman padi varietas PTB-33 mati. Kematian ini terjadi karena wereng coklat sudah tidak tertarik dengan tanaman padi sehingga tidak mau memakannya. Keadaan tanaman padinya pun terlihat masih segar dan hijau karena samasekali tidak tersentuh oleh wereng coklat.

Varietas tanaman dapat disebut tahan apabila memiliki sifat-sifat yang memungkinkan tanaman itu menghindar, atau pulih kembali dari serangan hama pada keadaan yang akan mengakibatkan kerusakan pada varietas lain yang tidak tahan, memiliki sifat-sifat genetik yang dapat mengurangi tingkat kerusakan yang disebabkan oleh serangan hama, memiliki sekumpulan sifat yang dapat diwariskan, yang dapat mengurangi kemungkinan hama untuk menggunakan tanaman tersebut sebagai inang, atau mampu menghasilkan produk yang lebih banyak dan lebih baik dibandingkan dengan varietas lain pada tingkat populasi hama yang sama (Sumarno, 1992).

Padi varietas IR-64 merupakan tanaman padi varietas sedang. Padi ini mempunyai mekanisme resistensi antibiosis karena wereng coklat yang berada pada tanaman padi tersebut masih tetap bertahan dengan jumlah populasi yang sedikit. Wereng coklat yang telah memakan padi varietas nimfanya akan mati, selain itu reproduksi dan perkembangannya pun menjadi terganggu.

Sedangkan padi varietas TN-1 adalah padi varetas rentan. Padi ini mudah sekali terserang oleh hama terutaman wereng coklat. Padi ini tidak memiliki mekanisme resistensi. Keadaan padi varietas ini kering berwarna coklat atau yang biasa disebut dengan gejala hopperburn. Pada minggu pertama pengamatan gejala hopperburn sudah terlihat, hal ini menunjukkan bagaimana rentannya padi varietas TN-1. Karena terjadinya hopperburn inilah wereng coklat kehabisan makanan dan akhirnya mati.

Varietas resisten ini dapat dgunakan dalam pengendalain hama Beberapa keuntungan menggunakan varietas resisten dalam pengendalian hama antara lain: (1) mengendalikan populasi hama tetap di bawah ambang kerusakan dalam jangka panjang, (2) tidak berdampak negatif pada lingkungan, (3) tidak membutuhkan alat dan teknik aplikasi tertentu, dan (4) tidak membutuhkan biaya tambahan lain (Wiryadiputra, 1996). Namun demikian penggunaan varietas resisten tidak selamanya efektif, terutama apabila menggunakan varietas dengan ketahanan tunggal (ketahanan vertikal) secara terus menerus (Liu et al., 2000, Witcombe dan Hash, 2000).

Secara ekonomi keuntungan penggunaan tanaman resisten disebabkan karena tanaman resisten dapat meminimumkan kehilangan hasil akibat serangan hama dan dapat mengurangi pengeluaran untuk penggunaan pestisida. Keuntungan lain dari pemanfaatan tanaman resisten dalam pengendalian hama adalah: berkurangnya penggunaan pestisida kimia yang berarti mengurangi polusi racun kimia pada lingkungan dan dapat mempertahankan atau meningkatkan keanekaragaman spesies. Di samping itu dalam tataran operasional pemanfaatan tanaman resisten kompatibel untuk dikombinasikan dengan hampir semua taktik pengendalian.

Selain menguntungkan, penggunaan tanaman resisten dalam pengendalian tanaman juga mempunyai kelemahan. Oka (1995) menyampaikan beberapa kelemahan penggunaan tanaman resisten terhadap hama berdasarkan pengalaman selama ini, sebagai berikut:

a) Daya tahan suatu varietas unggul yang berhasil dirakit sampai sekarang terbatas menghadapi beberapa spesies hama saja.

b) Varietas yang baru berhasil dirakit belum tentu disukai oleh petani dan konsumen, karena belum dapat memenuhi keinginan mereka, seperti rasa, umur tanaman, produktifitas, dan lain-lain.

c) Memperkenalkan varietas baru kepada petani memerlukan usaha penyuluhan yang intensif dan memakan waktu.

d) Biaya yang harus disediakan untuk mengganti varietas lama dengan yang baru cukup banyak.

e) Penelitian memerlukan waktu yang cukup lama untuk menghasilkan satu varietas unggul baru yang tahan terhadap satu spesies hama.

f) Tidak mudah untuk menggabungkan faktor-faktor ketahanan dari suatu varietas atau organisme ke dalam varietas baru.

KESIMPULAN

Resistensi tanaman adalah suatu keadaan dimana tanaman tahan terhadap serangan suatu hama. Resistensi tanman ini erat kaintanya dengan respon tanaman terhadapserangan hama dan keterkaiatn hama terhadapa tanaman. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan PTB-33 memiliki resistensi antisenosis karena wereng coklat yang ada pada varietas ini mati semua. IR-64 memiliki mekanisme resistens antibosis karena wereng coklat pada varetas ini tetap bertahan dengan proses reproduksi dan perkembangan yang lambat. Sedangkan TN-1, tidak memiliki resistensi terhadap serangan wereng coklat sehingga timbullah gejala hopperburn. Tanaman yang resisten terhadap serangan hama ini dapat digunkan dalam pengendalian populasi hama dalam suatu daerah. Akan tetapi penggunaan tanaman resisten ini juga memiliki beberapa kelemahan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2007. Resistensi Tanaman. Bahan Kuliah Interaksi Tanaman Serangga Semester I, 2007/2008. Sekolah Pascasarjana IPB.

Beck, S.D. 1965. Resistance of Plant to Insects. Ann. Rev. Entomol.

Liu, J., D. Liu, W. Tao, W. Li, S. Wang, P. Chen, and D. Gao, 2000. Molecular marker-facilitated pyramiding of different genes for powdery mildew resistance in wheat. Plant Breeding. 119 : 21-24.

Oka, I.N. 1995. Pengendalian Hama Terpadu dan Implementasinya di Indonesia. Yogyakarta:Gadjah Mada University Press.

Schoonhoven, L.M., T. Jermy and J.J.A. van Loon. 1998. Insect-Plant Biology, from Physiology to Evolution. London:Chapman & Hall.

Sumarno, 1992. Pemuliaan untuk ketahanan terhadap hama. Prosiding symposium Pemuliaan Tanaman I. Perhimpunan Pemuliaan Tanaman Indonesia, Komisariat Daerah Jawa Timur.

Wiryadiputra, S., 1996. Resistance of Robusta coffea to coffee root lesion nematode, Pratylenchus coffeae. Pelita Perkebunan. 12(3) : 137-148.

Witcombe, J.R. and C.T. Hash, 2000. Resistance gen deployment strategies in cereal hybrids using marker-assisted selection: Gene pyramiding, three-way hybrids, and synthetic parent population. Euphytica. 112 : 175-186.


PENDAHULUAN

Latar Belakang

Permasalahan yang tidak pernah berhenti dalam dunia pertanian adalah masalah hama, termasuk di Indonesia yang memiliki iklim tropis yang cocok dengan perkembangan hama. Hama adalah suatu organisme yang dapat menimbulkan kerusakan pada tanaman pada tingkat yang merugikan secara ekonomi. Kerugian yang sering kali ditimbulkan oleh hama ini antara lain penurunan kualitas dan kuantitas hasil produksi pertanian.

Padi adalah tanaman yang produksinya sedang digencar-gencarkan oleh Indonesia, karena pemerintah selalu menginginkan adanya swasembada beras dan padi juga merupakan sumber makanan pokok masyarakat Indonesia. Akan tetapi dalam pertumbuhannya, padi ini tidak akan luput dari serangan hama. Hama yang sering menimbulkan kerugian adalah golongan serangga dan golongan vertebrata (tikus, babi hutan). Salah satu serangga pengganggu paling penting adalah wereng coklat. Wereng coklat ini dengan aktivitas makannya yang menusuk menghisap ini dapat menimbulkan gejala hopperburn, yaitu gejala seperti terbakar. Sedangkan dari golongan Avertebrata yang menjadi hama adalah keong mas.Keong mas ini menggerigiti pangkal batang padi, yang menyebabkan padi menjadi roboh dan akahirnya mati.

Salah satu hambatan dalam menaikkan produksi beras di Indonesia adalah serangan hama wereng coklat (Nilaparvata lugens). Wereng coklat secara langsung merusak tanaman padi karena nimfa dan imagonya mengisap cairan sel tanaman sehingga tanaman kering dan akhirnya mati. Kerusakan secara tidak langsung terjadi karena serangan penyakit virus kerdil rumput dan kerdil hampa yang ditularkannya. Kerusakan berat yang disebabkan oleh wereng coklat terkadang ditemukan pada persemaian, tetapi sebagian besar menyerang pada saat tanaman padi masak menjelang panen.

Tujuan

Tujuan dari diadakannya kunjungan ke Balai Besar Penelitian Padi Sukamandi adalah untuk mengetahui hama apa saja yang sering menyerang padi serta untuk mengetahui cara pengendalian hama penyerang padi yang paling tepat.

BAHAN DAN METODE

Alat dan Bahan

Alat yang digunkan dalam kunjungan ke Balai Besar Padi di Sukamandi ini adalah alat tulis seperti buku dan pulpen serta kamera. Sedangkan bahan yang digunkan adalah tanaman padi yang terserang wereng coklat, telur wereng coklat, dan keong emas.

Metode

Metode yang digunakan dalam kunjungan ke Balai Besar Padi ini adalah dengan pengamtan langsung padi yang terserang wereng coklat pada rumah kaca, melihat wereng coklat dan telurnya secara langsung, serta melihat stadia-stadia keong emas dalam menyerang padi. Kemudian menentukan pengendalian yang tepat untuk mengendalikan ham a tersebut.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Pengamatan

Gambar Wereng Coklat yang Menyerang Padi di dalam Rumah Kaca BBP Padi

Wereng coklat

Gambar Wereng Coklat

Sumber: http://www.litbang.deptan.go.id/berita/one/611/file/picture

Gambar Gejala Penyakit yang Disebarkan oleh Wereng Coklat

Gejala Kerdil Hampa Gejala Kerdil Rumput

Pembahasan

Serangga wereng coklat berukuran kecil, panjang 0,1-0,4 cm. Wereng coklat bersayap panjang dan wereng punggung putih berkembang ketika makanan tidak tersedia atau terdapat dalam jumlah terbatas. Dewasa bersayap panjang dapat menyebar sampai beratus kilometer.

Dalam masa perkembangannya, wereng coklat dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu makroptera dan brakhiptera. Makkroptera adalah wereng coklat yang memiliki sayap panjang. Wereng coklat ini dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya dengan terbang menggunakan sayapnya tersebut. Sedangkan brakhiptera adalah wereng coklat yang bersayap pendek. Wereng coklat ini mempunyai kemampuan bereproduksi yang tinggi. Jenis wereng coklat brakhiptera dapat berubah menjadi makroptera apabila populasi wereng coklat pada suatu pertanaman sudah terlalu banyak.

Wereng coklat secara langsung dapat menyebabkan penyakit hopperburn. Hopperburn adalah gejala pada tanaman yang terserang wereng ini dengan penampakan tanaman kering seperti terbakar. Secara tidak langsung wereng coklat ini dapat berperan sebagai vector penyakit kerdil hampa dan kerdil rumput. Kerdil hampa adalah penyakit pada tanaman padi dengan gejala tidak terisinya malai karena virus ini menyerang pada fase vegetatif. Sedangkan kerdil rumput merupakan penyakit dengan gejala yang hampir mirip karena merupakan gejala lanjutan dari penyakit kerdil hampa. Ciri khas dari penyakit kerdil rumput ini adalah selain malai tidak terbentuk, perawakan dari tanaman padi berkembang menyerupai rumput ilalang.

Biotipe adalah suatu populasi atau individu yang dapat dibedakan dari populasi atau individu lain bukan karena sifat morfologi, tetapi didasarkan kepada kemampuan adaptasi, perkembangan pada tanaman inang tertentu, daya tarik untuk makan, dan meletakkan telur. Dari pengalaman yang panjang, yakni sejak munculnya serangan wereng coklat di Indonesia yang pertama kali pada tahun 1930, wereng coklat terbukti mampu beradaptasi secara terus menerus bila dipelihara pada suatu varietas dan mampu mematahkan ketahanan varietas serta menghilangkan daya seleksi varietas yang ditempatinya. Oleh karena itu, dalam mengendalikan wereng coklat perlu adanya pergiliran varietas. Hal ini dilakukan untuk menunda seleksi terarah yaitu untuk menunda terjadinya biotipe baru. Pergiliran varietas adalah bagian dari pergiliran tanaman dengan tanaman sejenis yang berbeda ketahanannya.

Sejak diketahuinya ada wereng coklat pada 1930 (biotipe nol), baru timbul wereng coklat biotipe 1 pada tahun 1971. Pada Tahun 1967 diintroduksi varietas padi unggul ajaib IR5 dan IR8 yang tidak mempunyai gen ketahanan terhadap wereng coklat, namun berproduksi tinggi yaitu lebih dari 2 kali lipat produksi padi yang telah ada saat ini. Hanya saja nasinya berasa pera. Lalu, pada tahun 1971 dilepas varietas Pelita I/1 yang tidak mempunyai gen ketahanan terhadap wereng coklat dengan rasa nasi enak dan pulen. Tetapi pada tahun 1972 terjadi ledakan serangan wereng coklat pada varietas-varietas tersebut, hal ini karena ada perubahan biotipe wereng coklat biotipe nol menjadi wereng coklat biotipe 1.

Pada tahun 1975, untuk menghadapi wereng biotipe 1 telah diintroduksi varietas IR26 (gen tahan Bph 1) dari IRRI. Namun demikian, pada tahun 1976 terjadi ledakan wereng coklat yang hebat dibeberapa daerah sentral produksi padi. Hal ini karena ada perubahan wereng coklat biotipe 1 ke wereng coklat biotipe 2. Pada tahun 1980, untuk menghadapi wereng biotipe 2 diintroduksi lagi varietas IR42 (gen tahan bph2) dari IRRI. Varietas baru ini mampu bertahan dilapangan, namun pada perbesar MP 1981 / 1982 dilaporkan dari kabupaten Simalunggun – Sumatera Utara bahwa IR42 telah terserang wereng coklat. Wereng coklat tersebut diuji di laboratorium reaksinya terhadap varietas diferensial menyimpang dari sifat biotipe yang etlah diketahui, sehingga wereng tersebut dimasukkan sebagai wereng coklat IR 42 SU (Deli Serdang). Wereng coklat yang meledak di Sumatera Utara hampir mirip dengan wereng coklat populasi asia selatan (SAA) yang terdapat di India dan Srilanka. Pengujian biotipe terus dilanjutkan dan akhirnya diketahui bahwa wereng yang menyerang IR42 di Sumut adalah wereng coklat biotipe 3.

Untuk menghadapi wereng coklat biotipe 3 telah diintroduksikan varietas padi IR 56 (gen tahan Bph3) pada 1983 dan IR64 (gen tahan Bph1+) tahun 1986. Ternyata varietas IR64 ini menyelamatkan bangsa, karena mempunyai rasa nasi enak, produksi tinggi, dan tahan wereng coklat biotipe 3, sehingga petani menjadi tenang bila menanam varietas tersebut. Sejak itu banyak varietas padi buatan bangsa Indonesia yang dilepas untuk menghadapi wereng coklat di pertanaman, namun varietas baru tersebut dilepas sebagai keturunan dari IR64. Dilain pihak varietas IR56 kurang beruntung karena tak banyak disukai petani. Selanjutnya sebagai antisipasi dini kemungkinan terjadinya serangan wereng coklat biotipe 4 maka pada tahun 1991 diintroduksi varitas IR74 (gen tahan Bph3) untuk mempertinggi keragaman genetik pertanaman mozaik. Namun demikian varietas IR74 yang mempunyai rasa nasi pera tidak bisa ditanam petani.

Pada 2005 beredar isu nasional karena terjadi serangan wereng coklat pada tanaman padi di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat terhadap varietas IR64 dan beberapa varietas populer lainnya yang telah patah ketahanannya dari uji ketahanan varietas lanjutan menunjukkan bahwa varietas IR42 (Bph2) sudah patah ketahananya terhadap wereng coklat asal Patih dan Demak dengan reaksi agak peka sampai peka, sedangkan Cisadane dan Ciliwung dan Tukad Petanu berekasi agak tahan sampai agak peka.

Varietas IR64, IR6, Cisadane, Sri Putih, Sri Putih Jateng, Ciherang, Bondoyudo, Kalimas dan membramo berekasi agak tahan terhadap wereng coklat asal Patih dan Demak. Pada 2005 teridentifikasi bahwa pada wereng coklat di Patih masih tetap merupakan biotipe 3 yang mulai berkembang sejak tahun 1995, sedangkan yang di Demak berubah dari wereng coklat biotipe 2 pada 1985 menjadi wereng coklat biotipe 3 pada tahun 2005.

Kestabilan wereng coklat biotipe nol bertahan selama 41 tahun sebelum menjadi wereng coklat biotipe 1. perubahan wereng coklat biotipe 1 ke wereng coklat biotipe 2 hanya dalam waktu 4 tahun, dan perubahan wereng coklat biotipe 2 ke wereng coklat bitipe 3 hanya dalam kurun waktu 5 tahun. Setelah terjadi wereng coklat biotipe ke 3 sampai 2005 sudah 25 tahun sejak terjadinya wereng coklat biotipe 2 masih tetap didominasi wereng coklat biotipe 3, namun pada 2006 seudah mulai ada wereng coklat biotipe 4 di Asahan, Sumatera Utara. Keberadaan wereng coklat biotipe 3 yang cukup lama, disebabkan adanya varietas IR64. (Bph 1 +) yang merupakan varietas Durable resistance sebagai penyangga perubahan wereng coklat di biotipe yang lebih tinggi, juga disebabkan tidak berkembangnya varietas IR74 (Bph3) yang akan menyulut terbentuknya biotipe baru.

Untuk keperluan manajemen pengendalian wereng coklat diperlukan data tingkat biotipe dari seluruh sentra produksi padi dan data ketahanan galur / varietas terhadap wereng coklat biotipe 1, 2, 3 dan 4. Identifikasi wereng coklat untuk menentukan tingkat biotipenya terus dilanjutkan terutama pada daerah-daerah yang varietas IR64 telah patah ketahanannya. (Baehaki, 2007)

Selain banyak ditemukannya wereng coklat juga di temukan hama dari kelompok Mollusca yaitu Keong Emas (Pomacea canaliculata) pada pertanaman padi. Banyak pula ditemukan telur dari hama ini yang berwarna merah muda (pink) pada batang dari tanaman padi. Keong emas menyerang padi pada fase vegetatif padi dengan menggerigiti pangkal batang padi sehingga menyebabkan batang padi roboh.

KESIMPULAN

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di Balai Besar Penelitian Padi (BBP Padi), hama yang menyebabkan kerugian paling penting adalah wereng coklat. Secara langsung, wereng coklat dapat menyebabkan hopperburn dengan aktivitas makannya dengan cara menusuk menghisap. Secara tidak langsung, wereng coklat ini berperan sebagai vektor virus yang menyebabkan penyakit kerdil hampa dan kerdil rumput. Sampai saat ini wereng coklat telah berkembang menjadi empat biotipe. Perkembangan ini disebabkan oleh penggunaan pestisida yang berlebih dan perubahan iklim yang terjadi secara terus-menerus. Selain wereng coklat, hama yang diteliti di BBP Padi adalah keong emas. Keong emas ini menyerang pada fase vegetative padi dengan menggerigiti pangkal batang sehingga padi roboh.

DAFTAR PUSTAKA

Baehaki. 2007. Perkembangan Wereng Coklat Biotipe 4. Jakarta: Gramedia.

http://www.litbang.deptan.go.id/berita/one/611/file/picture [24 Mei 2010]

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Tanaman kacang tanah termasuk suku (family) Papilionaceae. Kedudukan tanaman kacang tanah dalam sistematika (taksonomi) diklasifikasikan sebagai berikut :

Kingdom : Plantae

Divisi : Spermatophyta

Subdivisi : Angiospermae

Kelas : Dicotyledone

Ordo : Leguminales

Family : Papilionaceae

Genus : Arachis

Spesies : Arachidis hypogeae (Rukmana, 1998)

Sumber genetik kacang tanah berasal dari Brasilia. Penanaman kacang tanah pertama kali dilakukan oleh orang Indian. Di Indonesia kacang tanah mulai ditanam pada awal abad ke-17. Masuknya kacang tanah ke wilayah nusantara dibawa oleh pedagang China dan Portugis. Sentrum produksi kacang tanah terpusat pada pulau Jawa selanjutanya menyebar ke berbagai daerah, terutama Sumatra Utara dan Sulawesi Selatan (Rukmana, 1998).

Tubuh tanaman kacang tanah tersusun atas organ akar, batang, daun, bunga, buah, dan biji. Perakaran tanaman kacang tanah terdiri atas akar lembaga (radikula), akar tunggang (radiks primaria), dan akar cabang (radiks lateralis). Akar berfungsi sebagai organ penghisap unsur hara dan aiar untuk pertumbuhan tanaman. Namun fungsi tersebut dapat terganggu bila tanah beraerasi jelek, kadar airnya kurang, kandungan senyawa Al dan Mn tinggi serta derajat keasaman dan pH tanah tingggi. Akar bersimbiosis dengan bakteri Rhizobiun radicicola yang menimbulkan bintil-bintil pada akarnya. Simbiosis ini bersifat saling menguntungkan (Rukmana, 1998).

Batang tanaman kacang tanah berukuran pendek, berbuku-buku dengan tipe pertumbuhan tegak atau mendatar. Buku-buku atau ruas-ruas batang yang terletak di dalam tanah merupakan tempat melekat akar, bunga, dan buah. Ruas-ruas batang yang berada di permukaan tanah merupakan tempat tumbuh tangkai daun. Daunnya berbentuk lonjong, berletak berpasangan (majemuk), dan bersirip genap. Tiap tangkai daun terdiri atas empat helai anak daun. Helaian daun bersifat nititropik, yaitu mampu menyerap cahaya matahari sebanyak-banyaknya. Permukaan daunnya memiliki bulu yang berfungsi sebagai penahan atau penyimpan debu (Rukmana, 1998).

Bunga tanaman kacang tanah berbentuk kupu-kupu, berwarna kuning, dan bertangkai panjang yang tumbuh dari ketiak daun. Fase berbunga biasanya berlangsung setelah tanaman berumur 4-6 minggu. Bunga kacang tanah menyerbuk sendiri pada malam hari. Dari semua bunga yang tumbuh, hanya 70-75% yang membentuk bakal polong atau ginofor. Buah kacang tanah berbentuk polong dan dibentuk di dalam tanah. Tiap polong terdiri satu sampai tiga biji atau lebih. Ukuran polong bervariasi tergantung jenis atau varietasnya dan tingkat kesuburam tanah. Biji kacang tanah berbentuk agak bulat sampai lonjong, terbungkus kulit biji tipis berwarna putih, merah, atau ungu. Biji kacang tanah berkepimg dua merupakan alat perbanyakan tanaman dan bahan makanan (Rukmana, 1998).

Tujuan

Tujuan dari penulisan disease notebook ini adalah:

  1. Untuk mengetahui beberapa penyakit penting pada kacang tanah.

  2. Membandingkan beberapa penyakit penting pada kacang tanah dan menentukan penyakit yang sering terjadi di lapangan.

  3. Menentukan penyakit yang sulit dikendalikan.

PENYAKIT PENTING DALAM KACANG TANAH

  1. Bercak Daun

Bercak daun merupakan salah satu penyakit utama pada kacang tanah (Arachidis hypogea) yang menurunkan hasil sampai 60%. Bercak daun ini disebabkan oleh Cercospora personata dan Cercospora arachidicola. Penyakit ini dominan pada pertanaman kacang tanah lahan kering maupun lahan sawah. Penyakit ini sudah menyebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia, umumnya disebut tikka. Menurut Raciborski (1898), pada tahun 1900 penyakit sudah tersebar di seluruh pulau Jawa. Penyakit selalu terdapat pada daun-daun kacang tanah yang menjelang masak, sehingga banyak petani yang berpendapat bahwa datangnya penyakit ini menandakan bahwa tanamannya sudah hampir masak.

C.arachidicola membentuk konidia pada kedua sisi daun meskipun lebih banyak pada sisi atas. Stroma kecil dengan garis tengah 25-100 µm yang berwarna coklat tua. Konidifor membentuk rumpun kecil, berwarna coklat kehijauan pucat atau coklat kekuningan. Pangkalnya lebih gelap, mempunyai bengkokan seperti lutut, tidak bercabang, bersekat dengan ukuran 15-45 x 3-6 µm. Konidia hampir jernih atau agak coklat kehijauan, seperti gada terbalik, sedikit atau banyak membelok, bersekat sampai 12, pangkalnya bulat, terpancung, ujung meruncing. Konidia berukuran 35-110 x 3-6 µm.

Bercak C.arachidicola mirip sekali dengan bercak C.personata. Namun dari sisi bawah daun tampak bahwa bercak tampak tidak berwarna hitam tetapi lebih coklat. Rumpun konidiofor cendawan ini kecil-kecil, sehingga tidak terlihat dengan mata biasa. Rumpun konidiofor terdapat pada kedua sisi daun, bahkan

Gambar 1. Gejala bercak daun kacang tanah yang disebabkan oleh C.arachidicola (www.congtyhai.com.vn/htmls/techn…urPa%3D1)

banyak terdapat pada sisi atas. Biasanya C.archidicola datang lebih awal dari pada C.personata, sehingga penyakit yang disebabkannya disebut bercak daun awal (early leaf spot).

C.personata jarang ditemukan di Indonesia. Cendawan ini diketahui dapat membentuk peritesium. Menurut Dahlan dan Rahmawati (1985) stadium sempurna cendawan ini dibentuk pada musim hujan yang sangat lembab. Cendawan membentuk askostroma pada kedua permukaan daun meskipun lebih banyak pada permukaan bawah. Konidia dibentuk pada sisi bawah atau atas daun tetapi um unya pada sisi bawah. Cendawan membentuk membentuk stroma yang padat, garis tengahnya sampai 130 µm. Konidiofor dibentuk dalam jumlah besar pada bercak, membentuk rumpun yang rapat, kadang-kadang pada lingkaran sepusat, coklat muda sampai coklat kehijauan, licin, mempunyai bengkokan seperti lutut, tidak bersekat, atau bersekat jarang, berukuran 10-100 x 3-6,5 µm, bekas tempat melekatnya konidium tampak jelas, menebal dan menonjol dengan lebar 2-3 µm. Konidia coklat kehijauan, kebanyakan mempunyai warna yang sama dengan konidiofornya, seperti tabung atau seperti gada terbalik, biasanya lurus atau agak lengkung, jika diperhatikan dindingnya tamapak kasar, ujungnya membulat, pangkalanya meruncing pendek, bersekat 1-9, tidak menyempit pada sekat, dan berukuran 20-70 x 4-9 µm (Holliday, 1980).

Gambar 2. Konidia C.personata (www.padil.gov.au/viewPest.aspx%3…id%3D480)

Cercospora personata lebih banyak ditemukan dan lebih merugikan daripada Cercospora arachidicola. Biasanya penyakit yang disebabkan C.personata menimbulkan gejala yang lebih lambat, disebut late leaf spot. Pada daun kacang kacang tanah, cendawan membentuk bercak-bercak yang umumnya bulat, dengan garis tengah 1-5 mm meskipun kadang-kadang sampai 15 mm. Bercak mempunyai halo kuning. Dari sisi atas bercak berwarnas coklat dan dari sisi bawah tampak hitam dengan titik-titik hitam yang terdiri dari rumpun-rumpun konidiofor. Cendawan juga dapat menyerang tangkai daun, daun penumpu, batang dan tangkai buah (ginofor) (Semangun, 1993).

Gambar 3. Gejala bercak daun yang disebabkan oleh C. personata

(www.jnkvv.nic.in/IPM%2520Project…nut.html)

Pemencaran penyakit ini dibantu oleh angin dan serangga, meskipun angin memegang peranan yang jauh lebih besar. C.personata memencar sangat cepat, sehingga dalam waktu 7 hari intensitas penyakit dapat meningkat 10 kali, sedangkan C.arachidicola diperlukan waktu 23 hari. Di udara, konidia kedua cendawan tersebut paling banyak terdapat menjelang tengah hari (Holliday, 1980).

Infeksi dapat terjadi melalui kedua sisi daun. Jamur mengadakan penetrasi langsung dengan menembus permukaan lateral sel-sel epidermal, atau melalui mulut daun. Infeksi pada daun paling banyak melalui epidermis atas (Singh, 1969). Sampai sekarang belum diketahui di manakah jamur mempertahankan diri dari musim ke musim. Demikian pula belum diketahui tumbuhan apa sajakah yang menjadi inang keduanya. Tidak terdapat bukti bahwa penyakit dapat terbawa oleh biji (Holliday, 1980). Cendawan dapat mempertahankan diri pada sisa-sisa tanaman sakit dan pada tanaman kacang tanah yang tumbuh liar. Selain itu, pertanaman tua dapat menjadi sumber infeksi bagi pertanaman baru di dekatnya.

Penyakit bercak daun sangat dipengaruhi oleh kelembaban. Dalam cuaca kering penyakit baru berkembang banyak bila tanaman berumur 70 hari, sedangkan dalam cuaca lembab terjadi pada umur 40 -45 hari. Pada suhu 23,5 – 26,50 C terjadi epidemik bercak daun bila kelembaban nisbi paling rendah 95% berlangsung 6-8 jam. Pada suhu yang lebih rendah diperlukan waktu yang lebih panjang. Ketahanan terhadap bercak daun mempunyai korelasi dengan tebalnya jaringan tiang (palisade) dan ukuran mulut kulit. Pada umumnya jenis yang berbentuk semak mempunyai ketahanan yang lebihn rendah daripada yang agak melebar (Holliday, 1980).

Perkembangan penyakit dibantu dengan adanya kelaparan Magnesium. Berbagai jenis kacang tanah mempunyai ketahanan yang berbeda terhadap penyakit bercak daun. Tanaman yang mempunyai kadar riboflavin tinggi cenderung lebih tahan, sedangkan yang mempunyai kadar asam askorbik tinggi lebih rentan (Singh, 1969). Penyebab penyakit dapat diidentifikasi melalui Postulat Koch.

Di antara jenis-jenis unggul yang dianjurkan dewasa ini varietas Kelinci, Rusa, dan Anoa tahan terhadap penyakit bercak daun, tetapi Rusa dan Anoa kurang tinggi daya hasilnya (Sumarno, 1987).

Penyakit ini dapat dikendalikan dengan cara :

  • Pergiliran tanaman lain selain kacang tanah

  • Menghilangkan gulma di sekitar tanaman untuk mengurangi kelembaban udara
  • Jarak tanam diusahakan agak longgar/renggang, 40-50 cm

  • Pemberian pupuk fosfat 60-70 kg P2O5 per ha dilaporkan dapat memperlambat perkembangan penyakit.
  • Penggunaan varietas tahan (Anoa dan Kelinci) dan toleran (Badak)

  • Penyemprotan bermacam-macam fungisida :

    • Fungisida yang mengandung tembaga, misalnya bubur Bordeaux 1% atau Perenox (kuprooksida) 0,5% yang disemprotkan 2 minggu sekali. Penymprotan dapat dilakukan sebelum gejala pertama muncul. Agar berhasil baik, fungisida harus mengenaio sisi bawah daun juga.

    • Fungisida yang mengandung oksiklorida (memberikan hasil yang kurang memuaskan).

    • Mankozeb, Karbendazim (Delsene), dan Benomil (Benlate) yang terbukti efektif.
    • Penyemprotan fungisida Bitertanol 300 g/l pada umur 7, 9 dan 11 minggu cukup efektif me­nekan serangan penyakit bercak daun dan karat,  sehingga dapat meng­ha­silkan jumlah daun saat panen lebih besar dibanding perlakuan tanpa penyemprotan fungisida. Pengendalian penyakit daun selain menekan kehilangan hasil polong 8,5–7,4%, juga dapat menekan kerontokkan daun, sehingga hasil biomassa untuk pakan ternak semakin banyak.

  1. Layu Bakteri

Penyakit layu bakteri, hingga saat ini, masih merupakan faktor pembatas produksi tanaman utama seperti pada kacang tanah, tomat, dan kentang. Penyakit tersebut disebabkan oleh Ralstonia solanacearum yang bisa menempel pada lebih 200 jenis tanaman inang.

Penyakit layu yang disebabkan oleh bakteri Ralstonia solanacearum yang sebelumnya bernama Pseudomonas solanacearum merupakan penyakit penting pada budidaya kacang tanah di Indonesia. Bakteri ini dapat menyerang tanaman kacang tanah pada berbagai stadia pertumbuhan. Bakteri berbentuk batang berukuran 1,5 x 0,5 µm, tidak mempunyai spora, tidak berkapsul dan dapat bergerak dengan satu bulu cambuk (flagella) yang terdapat di ujung. Bakteri ini

Gambar 3. Gejala Layu Bakteri Kacang Tanah (Semangun, 1993)

bersifat aerob dan merupakan salah satu bakteri bergram negatif. Di atas medium agar-agar bakteri membentuk koloni yang keruh, berwarna kecoklatan, kecil, tidak teratur, halus, kebasah-basahan dan bercahaya.

Infeksi R.solanacearum bila terjadi melalui tanah akan menimbulkan gejala pertama pada waktu tanaman berumur 2 minggu. Tanaman layu dengan tiba-tiba, sedemikian cepat sehingga daun tanaman masih tetap berwarna hijau. Tanaman seperti tersiram air panas, sehingga sering juga disebut dengan hama wedang (wedang = air panas). Pada serangan yang lebih ringan terjadi kelayuan sepihak dan kadang-kadang tanaman yang sakit dapat sembuh kembali. Tanaman yang sakit layu selalu mempunyai sejumlah akar yang busuk dan berwarna hitam. Ini adalah akar-akar yang mengalami infeksi pertama. Akar-akar yang letaknya agak jauh dari bagian itu berwarna coklat. Infeksi yang terjadi pada tanaman yang sudah tua menyebabkan buah-buah tetap kecil dan sering mempunyai urat-urat berwarna coklat karena adanya bakteri dalam berkas pembuluh. Jika pangkal batang tanaman yang sakit dipotong dengan pisau yang tajam akan tampak bahwa berkas pembuluh berwarna kecoklatan. Jika potongan pangkaln batang ini diletakkan di tempat yang lembab, setelah ditunggu sementar waktu, dari berkas pembuluhnya akan keluar lender berwarna putih kotor yang mengandung bakteri (ooze).

R.solanacearum dapat bertahan lama di dalam tanah, terutama jika di situ terdapat banyak tumbuhan yang rentan. Populasi bakteri dalam tanah akan berkurang bila tanah dikeringkan, bila lama terendam air (sawah) atau lama ditanamani tanaman yang tidak rentan (tebu). Sampai sekarang tidak diketahui dengan pasti apakah bakteri terbawa oleh biji. Menurut Palm (1922) bakteri dapat diisolasi dari kulit polong. Bakteri dapat masuk ke funiculus dan kadang-kadang ke integument biji, tetapi tidak pernah masuk ke embrio. Kemungkinannya sangat kecil bahwa tanaman akan bertahan lama pada permukaan polong atau permukaan biji. Demikian pula belum diketahui secara jelas dengan cara apa bakteri memencar. Kemungkinan besar bakteri memencar karena terbawa oleh alat-alat pertanian seperti bajak dan cangkul. Pada umunya R.solanacearum hanya mengadakan infeksi melalui luka-luka. Luka-luka pada akar dapat terjadi karena serangga dan nematoda. Sel;ain itu, pada kulit akar dapat terjadi celah karena tumbuhnya akar sekunder. Pada percobaan, hanya bakteri dari biakan yang sangat virulen yang dapat menginfeksi akar yang tidak terluka.

Peneliti Balitbantan, Yadi Suryadi, mengatakan bahwa penyakit layu bakteri sulit ditangani karena pengelompokan patogen yang rumit. Dengan sebaran inang yang luas maka penanganan penyakit yang menimpa suatu tanaman belum tentu cocok diterapkan untuk tanaman lainnya. Selama ini para peneliti menggunakan dua sistem berbeda dalam mengelompokan R. solanacearum yakni sistem ras dan biovar. Menurut M Mahmud dari Balai Penelitian Bioteknologi dan Sumberdaya Genetika Pertanian (Balitbiogen), bedasarkan inangnya ada lima kelompok ras R. solanacearum, yaitu : (1) Strain terung-terungan (ras 1) : kisaran tumbuhan inang luas, terutama pada terung-terungan (Solanaceae) dan kacang-kacangan (Leguminosae), tersebar di seluruh daratan rendah tropik dan subtropik. (2) Strain pisang-pisangan (ras 2) terbatas pada marga Musa dan Heliconia, dan sedikit tumbuhan inang tanaman keras (perennial), semua terbatas di Amerika tropik, sekarang meluas ke Asia. (3) Strain kentang (ras 3) terbatas pada kentang dan beberapa tumbuhan inang alternatif di tropik dan subtropik. (4) Strain jahe (ras 4) dari Filiphina dan (5) Strain Murbei (ras 5) dari China. Meskipun inangnya sama sangat mungkin isolat patogennya berbeda. Sebagai contoh isolat R. solanacearum asal jahe dan kacang tanah tidak patogenik terhadap kecipir atau sebaliknya.

Berdasarkan sifat-sifat biokimianya R.solanacearum dibagi menjadi sejumlah biovar atau yang dulu disebut biotipe. Antara ras dan biovar tidak terdapat hubungan yang pasti, kecuali ras 3 yang ekuivalen dengan biovar 2 (Hayward, 1985). Di Jawa biovar 2 tersebar luas pada kentang di daerah penanaman kentang di Jawa Barat dan Jawa Timur. Biovar 3 terdapat di Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur pada kacang tanah, kentang, tomat, tembakau, buncis, terung, jahe, cabai, Ageratum conyzoides, Crassocephalum crepidioides, dan Croton glandulosus var. hirtus. Biovar 4 terdapat pada kentang di Jawa Timur (Hayward, 1986).

Deteksi dan identifikasi patogen sangat diperlukan untuk mencegah kerusakan tanaman akibat penyakit tersebut. Mengetahui sifat dan karakteristik masing-masing isolat patogen akan mempermudah pengendalian penyakit layu bakteri.

Menurut Yadi, ada beberapa cara untuk mendeteksi penyakit layu bakteri. Belakangan dikenal dua teknik identifikasi baru berdasarkan reaksi fisiologi atau biokimia yang dirakit menjadi sistem bactid dan biolog.

Sistem bactid digunakan untuk memudahkan mengeliminasi pencemar saprofit atau mikroorganisme nonsasaran lainnya. Sedangkan sistem biolog mengelompokkan berdasarkan taksa dan kemudian menelaah sifat dan karakteristik setiap taksa. Cara lain yang juga banyak dikembangkan adalah dengan pengelompokan berdasarkan karakteristik protein dan asam lemak yang dikandung masing-masing isolat patogen. Selain memerlukan banyak waktu penggunaan teknik atau cara-cara tersebut tidak menjamin memberikan hasil yang optimal. Selama ini pengendalian penyakit layu bakteri tidak membuahkan hasil yang menggembirakan. Dengan demikian diperlukan sebuah teknik identifikasi baru yang lebih efisien dan akurat. Merespons hal tersebut, para peneliti Balitbiogen saat ini mengembangkan metode pendekatan biologi molekuler untuk mengidentifikasi patogen. Cara tersebut mengidentifikasi patogen dengan melihat pola sidik jari DNA atau RNA. Pelacakan DNA tidak memerlukan pemurnian dan perbanyakan bakteri telebih dahulu sehingga lebih cepat dan efisien. Informasi berdasarkan pola DNA selanjutnya dijadikan dasar untuk memberikan tindakan apa yang paling tepat pada setiap isolat patogen. Namun, tidak mudah menerapkan teknik tersebut di Indonesia. Menurut Machmud, ada beberapa kendala dalam penerapan teknologi tersebut di Indonesia. Antara lain minimnya pengalaman peneliti dalam penggunaan biologi molekuler sehingga bisa menyebabkan rendahnya akurasi, fasilitas laboratorium yang belum memadai, serta penggunaan bahan radioaktif.

Penyakit layu bakteri R. solanacearum masih menjadi masalah serius di sebagian besar sentra produksi kacang tanah di Indonesia dan intensitas tinggi dijumpai di Sumatra Barat, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali dan Sulawesi Selatan (Machmud dan Hayward, 1992). Serangan dengan intensitas cukup tinggi dilaporkan dari daerah-daerah yang bukan merupakan daerah endemik layu bakteri. Penanaman kacang tanah secara terus menerus dan penggunaan benih lintas wilayah kemungkinan berperan terhadap semakin meluasnya serangan penyakit layu akhir-akhir ini. Daerah tropik seperti Indonesia merupakan lingkungan yang kondusif bagi ekspresi penyakit ini, karena: (1) suhu dan kelembaban lingkungan sesuai untuk perkembangan penyakit, (2) adanya sistem penanaman yang terus-menerus dan (3) inang rentan yang mungkin selalu tersedia (Hayward, 1994).

  1. Belang

Penyakit virus belang pada kacang tanah merupakan penyakit penting dan tersebar luas di daerah pusat pertanaman kacang tanah di Indonesia. Kehilangan hasil akibat serangan penyakit virus belang berkisar 10 -60% tergantung dari jenis kacang tanah, musim dan umur tanaman pada saat terinfeksi. Penyakit tidak mengurangi berat, gaya kecambah, dan ukuran biji, tetapi mengurangi jumlah polong, jumlah biji dan berat kering biji. Makin awal terjadinya infeksi, pengurangan semakin besar.

Gejala muncul pada helaian anak daun dengan terdapatnya gambaran belang-belang yang tidak teratur, berwarna hijau tua dan hijau muda. Ukuran daun tidak banyak berbeda dari daun yang sehat. Infeksi yang terjadi pada waktu tanaman masih muda sering menyebabkan terjadinya gejala belang dengan cincin klorosis. Pada penampang melintang daun tampak bahwa sel-sel epidermis tidak teratur bentuk dan susunannya. Sel-sel palisade berdesak-desakan dan bentuknya lebih silindris. Penyimpangan anatomi juga terdapat pada lembaga atau embrio biji tanaman sakit. Sel-sel lembaga menjadi tidak teratur dan mempunyai ukuran lebih kecil (Rusli, 1985).

Gambar 4. Gejala belang pada kacang tanah (Semangun, 1993)

Penyakit ini disebabkan oleh Peanut Mottle Virus (PMoV). PMoV termasuk dalam kelompok Potyvirus, dengan ukuran lebar 12 nm dan panjang 750 nm, mempunyai benang RNA tunggal yang tersusun atas 9500 nukleotida. Dalam sitoplasma sel-sel daging daun (mesofil) terdapat badan inklusi berbentuk cakra (pinwheel inclusion), melingkar, berkeping-keping dan di dekatnya terdapat zarah-zarah virus tersebut. Virus ioni mempunyai suhu inaktivasi 52-540 C, titik pengenceran terakhir 1000-10.000 kali, ketahanan terhadap kemasaman antara pH 4-8, krtahana terhadap penyimpanan in vitro pada suhu kamar adalah 24-30 jam. Virus mempunyai hubungan serologi dengan Potato Virus Y (Bos, 1983).

Virus dapat ditularkan secara mekanik, oleh kutu-kutu daun dan oleh biji tanaman sakit. Penularan secara mekanik mempunyai efektivitas 22-100%. Penyakit dapat ditularkan oleh kutu daun Aphis craccivora yang umum terdapat pada kacang tanah dan kacang panjang. Satu sampai tiga ekor kutu telah cukup untuk menularkan penyakit. Bermacam-macam stadium dan umur kutu ini dapat menularkan virus. Dalam badan Aphis craccivora hanya dapat bertahan kurang dari 24 jam. Virus bersifat non persisten (tidak diturunkan dari induk ke anaknya). Kutu yang mengandung virus sudah dapat menularkan virus ke tanaman sehat bila dibiarkan menghisap selama 3 menit. Oleh kutu daun PMoV dapat ditularkan ke tanaman kedelai dan sebaliknya. Sebagian dari biji tanaman sakit (kurang lebih 27,5%) tumbuh menjadi tanaman sakit.

Partikel virus tidak dapat dilihat dengan mikroskop cahaya, walaupun beberapa virus yang mengandung inklusi atau kristal dapat dilihat pada sel yang

Gambar 5. Partikel Peanut Mottle Virus

(www.agls.uidaho.edu/ebi/vdie/gen…s039.htm)

terinfeksi virus. Pengujian bagian sel atau sap kasar dari tumbuhan yang terinfeksi di bawah mikroskop elektron mungkin atau mungkin juga tidak dapat menghasilkan partikel seperti virus. Partikel virus tidak selalu mudah didapatkan bahkan jarang diperoleh, untuk membuktikan bahwa partikel tersebut adalah virus membutuhkan banyak waktu dan pekerja tambahan (Agrios, 1996).

Isolasi atau purifikasi (pemurnian) virus dapat dilakukan melalui ultrasentrifugasi sap tumbuhan. Ultrasentrifugasi mengentalkan virus dan memisahkannya dari sel-sel inang kontaminan. Beberapa modifikasi teknik ultrasentrifugasi, tertama sentrifugasi gradien kepadatan dapat diperoleh hasil yang baik. Pada semua metode tersebut, akhirnya virus didapatkan sebagai pelet yang tidak berwarna dalam tabung reaksi yang dapat digunakan untuk infeksi, mikroskopi elektron dan serologi.

Dewasa ini virus dapat dideteksi dan bahkan mengidentifikasi virus RNA dalam tumbuhan dengan mengisolasi selanjutnya menganalisis melalui elektroforesis. RNA rantai tunggal PMoV yang diisolasi selanjutnya dapat digunakan untuk menghasilkan DNA komplementer untuk RNA tersebut. DNA komplementer, jika dihasilkan dalam molekul yang terdapat zat radioaktif sedikitnya satu dari empat molekul DNA nukleotida, kemudian dapat digunakan dengan segera untuk percobaan hibridisasi dengan RNA virus. RNA virus sebagian dipurifikasi dari tumbuhan terinfeksi yang dicurigai dan dibiarkan bereaksi dengan DNA komplementer dalam tabung reaksi atau pada bantalan filter nitroselulosa. Hibrida dideteksi dan dihitung dengan autoradiografi atau dengan cairan scinzillation counting (penghitung kilauan).

Tanaman muda lebih rentan terhadap penularan. Kacang tanah yang mempunyai kulit ari berwarna merah muda dan merah tidak berbeda ketahanannya terhadap penyakit (Triharso, 1975).

Penyakit ini dapat dikendalikan dengan beberapa cara :

  1. Penanaman varietas tahan

Penanaman varietas kacang tanah yang tahan terhadap PMoV merupakan cara pengendalian yang efektif, murah, cocok dengan cara pengendalian yang lain, dan mudah diterima petani. Namun sejauh ini belum ditemukan varietas tahan terhadap infeksi tersebut. Akan tetapi dianjurkan untuk menanam kacang tanah varietas Anoa, Banteng, Gajah, AH-10 (Rusli,1985).

  1. Benih sehat bebas virus

Benih sehat merupakan modal utama dalam upaya pengendalain PMoV. Penggunaan benih yang berasal dari tanaman yang terinfeksi PMoV sering menjadi penyebab terjadinya ledakan penyakit terutama saat populasi vektor tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa benih sehat akan memberikan dampak nyata dalam menurunkan intensitas serangan penyakit di daerah yang lingkungan sekitar relatif bersih dari sumber-sumber inokulum. Namun upaya ini tidak memberi pengaruh nyata di daerah endemik atau terkontaminasi dengan sumber inokulum di lapang seperti halnya kebun percobaan (Baliadfi dan Saleh, 1995)

  1. Cara kultur teknis

Mengatur waktu tanam yang tepat saat populasi vektor di lapang masih rendah merupakan cara yang paling tepat untuk menghindari serangan penyakit belang.

  1. Pengendalian vektor

Pengendalian vektor dengan insektisida dapat menekan populasi vektor yang selanjutnya akan menekan perkembangan penyakit. Akan tetapi karena PMoV merupakan virus non persisten, penyemprotan insektisida tidak efektif menekan intensitas serangan meskipun mampu menekan populasi vektor (Lobenstein dan Raccah, 1980)

  1. Sapu

Penyakit sapu pada kacang tanah dikenal di Indonesia sejak tahun 1910an. Untuk pertama kali penyakit ini dilaporkan oleh Rutgers. Rutgers menamakannya sebagai Krulziektie (Curly desease). Nama ini diberikan berdasarkan gejala yang tampak. Penyakit sapu ini selain dapat menyerang kacang tanah juga dapat menyerang tanaman kara pedang (Canavalia ensiformis), lombok (Capsium anuum), kacang hijau (Phaseolus radiatus), kacang panjang (Vigna sinensis), dan tanaman lain yang berbunga kupu-kupu. Penyakit dapat menurunkan hasil polong mencapai 28-69%. Penyakit juga dapat menurunkan kandungan protein dan lemak biji tanaman sakit. Dewasa ini penyakit terdapat sporadis, lebih jarang jika dibandingkan penyakit belang. Penyakit ini kurang mempunyai arti ekonomi.

Penyakit ini disebabkan oleh mikopasma (Mycoplasm like Organism) jenis fitoplasma. MLO tersebut terdapat dalam jaringan floem dan tidak terdapat dalam jaringan lain. Dalam jaringan floem MLO terdapat terdapat dalam sel-sel pembuluh tapis, tetapi tidak terdapat dalam sel pengiring dan sel parenkim. MLO berbentuk jorong atau bulat dengan garis tengah 100-1.100 mm. Kadang-kadang ada yang berbentuk benang juga. Beberapa ada yang terlihat seakan-akan membelah atau membentuk tunas. Menurut Thung dan Hadiwijaya (1951) tanaman kacang tanah yang sakit sapu terjadi gangguan pada fisiologi hormonnya. Terjadinya gejala sapu dapat ditekan dengan mengobati tanaman sakit dengan asam cuka indolil (indole acetid acid) 0,01%.

Tanaman yang sakit mempunyai yang sempit. Ruas-ruasnya menjadi pendek dan tunas-tunas ketiak berkembang sehingga tanaman berbentuk sapu (witches broom). Daun penumpu (Bracteola) berwarna kemerahan (1947). Banyak tangkai buah atau ginofor yang mengadakan geotropi negatif, membelok tumbuh ke atas sehingga pembentukan buah terganggu (Thung dan Hadiwijaya, 1975). Pada pemeriksaan anatomi diketahui bahwa sel-sel floem tanaman sakit mengalami degenerasi dan susunan menjadi tidak teratur. Di dalam sel-sel floe mini terdapat kristal-kristal (Triharso, 1975). Dengan rusaknya jaringan floem, di dalam jaringan daun terjadi penimbunan pati (Sumardiono, 1975).

Gambar 6. Gejala sapu pada kacang tanah (www.nilgs.affrc.go.jp/db/disease…de37.htm)

Penyakit ditularkan oleh wereng (Orosius argentatus). Serangga tersebut dapat menularkan penyakit sapu dari kacang tanah ke kacang tanah lain meskipun presentase hasilnya rendah. Selain ditularkan Orosius argentatus juga dapat ditularkan oleh Aphis craccivora. Penularan penyakit sapu di Laboratorium untuk keperluan penelitian dilakukan dengan cara penyambungan pucuk atau dengan cara penggosokan (Semangun, 1993).

Penyakit sapu lebih banyak terdapat pada kacang tanah pada lahan yang sebelumnya juga ditanami kacang tanah. Di antara jenis-jenis kacang yang ada, jenis Macan mempunyai ketahanan yang cukup terhadap penyakit sapu. Sebaliknya jenis Banteng mempunyai ketahanan yang paling rendah.

Sapu tidak menimbulkan kerugian yang terasa sehingga tidak perlu dikendalikan secara khusus. Pengendalian sapu ini masih sukar secara langsung terhadap mikoplasmanya sendiri karena metabolism biologis dan sifat-sifatnya belum diketahui secara jelas. Akan tetapi pada beberapa cara yang dianjurkan untuk mengendalikan penyakit ini.

  1. Menghindari penanaman kacang tanah dua kali berturut-turut atau penanaman kacang tanah seseudah kedelai.

  2. Penanaman jenis Macan yang terbukti mempunyai ketahanan yang cukup terhadap penyakit sapu.

  3. Semua tanaman yang berasal dari sisa biji yang tertinggal di dalam tanah dan tanaman yang menunjukkan gejala permulaan, perlu segera dihilangkan untuk membatasi sumber inokulum.

  4. Tanaman kacang tanah sebaiknya dijauhkan dari kacang panjang untuk mengurangi perpindahan Aphis craccivora.

  5. Menghilangkan gulma yang hidup dekat dengan kacang tanah seperti ketepeng China (Cassia tora) dan Gempur watu (Borreria hispida).

  6. Penyemprotan dengan Diazinon 0,2% formulasi 1000 L /ha pada waktu tanaman berumur 30 hari dapat menekan populasi Aphis maupun Orosius sehingga menekan laju infeksi.

PERBANDINGAN PENYAKIT PENTING PADAA KACANG TANAH

Pembanding Bercak Daun Layu Bakteri Belang Sapu
Patogen Cercospora personata, Cercospora arachidicola Ralstonia solanacearum Peanut Mottle Virus Mycoplasm like Organism (MLO)
Gejala penyakit Pada C.personata bercak berwarna coklat pada permukaan atas daun dan hitam pada permukaan atas daun, pada C.arachidicola bercak berwarna coklat pada permukaan atas dan bawah. Tanaman layu dengan tiba-tiba, seperti disiram air panas Daun berbercak belang belang, keriting ke atas, jaringan antar tulang daun tertekan ke bawah. Daun kecil-kecil, ruas-ruas menjadi pendek, tunas ketiak berkembang, brakteola berwarna merah, Ginofor biotropi negatif
Tanda penyakit Ditemukannya konidia pada bagian tanaman yang sakit.

Muncul ooze saat bagian yang disayat dicelupkan di dalam air

Terdapat badan inklusi berbentuk cakara (pinwheel inclusion) pada sitoplasma sel-sel mesofil Terjadi penimbunan pati di jaringan floem
Pemencaran Angin dan serangga

Kemungkinan memencar melalui alat pertanian.

Serangga vector (Myzus persicae dan Aphis craccivora Serangga vector (Orosius argentatus dan Aphis cracccivora)
Pengendalian
  • Varietas tahan.
  • Pergiliran tanaman.
  • Eradikasi
  • Perlakuan benih dengan fungisida Captan
  • Varietas tahan
  • Pergiliran tanaman
  • Penggunaan benih bebas virus
  • Pergiliran tanaman
  • Eridikasi
  • Pengendalian serangga penular
  • Mengatur waktu tanam
  • Sanitasi
  • Varietas tahan
  • Pergiliran tanaman
  • Eradikasi
  • Pengendalian serangga vector
Bahan Kimia Sintetis Baycar 300 EC, Benlate 50 WP, Daconil 70 WP, Topsin M 70 WP. Streptonycin atau Agrimycin Menanggulangi vektoR dengan Pestona atau Natural BVR.

Berdasarkan penelitian yang telah di lakukan di Gunung Sindur, penyakit belang adalah penyakit yang paling banyak ditemukan di lapangan. Hal ini terjadi karena pengendalian secara kultur teknis dengan melakukan pergiliran tanaman telah dilakukan dengan baik, sehingga penyakit layu yang biasanya bersifat saprofit di tanah dan kemungkinan juga terdapat di tanah yang telah terinfeksi oleh sisa penanaman sebelumnya apabila ditanam secara monokultur dapat dikurangi. Sedangkan tingginya serangan virus mungkin disebabkan oleh benih yang digunakan petani pada awal pertanaman.

Dari keempat penyakit di atas, yang paling sulit untuk dikendalikan adalah penyakit belang, karena virus penyebabnya tidak bisa dikendalikan secara langsung. Pendeteksian penyakit yang disebabkan oleh virus juga membutuhkan waktu dan pekerja yang banyak. Pengendalian serangga vector juga tidak memastikan turunnya infeksi virus. karena PMoV merupakan virus non persisten, penyemprotan insektisida tidak efektif menekan intensitas serangan meskipun mampu menekan populasi vektor (Lobenstein dan Raccah, 1980). Penyakit layu bakteri juga sulit dikendalikan karena pengelompokan pathogen yang rumit. Dengan sebaran inang yang luas maka penanganan penyakit yang menimpa suatu tanaman belum tentu cocok diterapkan pada tanaman lainnya.

Cara pengendalian yang dapat digunakan dalam pengendalian keempat penyakit tersebut adalah pengendalian kultur teknis dengan pergiliran tanaman. Yang dimaksud dengan pergiliran tanaman adalah mengganti kacang tanah dengan tanaman lain yang tidak satu famili.

DAFTAR PUSTAKA

Agrios George N. 1996. Plant Pathology, Third Edition. Gainesville: University of Florida.

Baliadi Y dan N Saleh. 1989. Pengendalian Peanut Stripe Virus (PStV) dalam Kacanag Tanah (Arachis hypogaea). Kongres Nasional X PFI. Denpasar. November 1989: 129-132.

Dahlan S dan S Rahmawati. 1985. Biologi Serangan Cercospora personata pada Kacang Tanah. Kongres Nasional VIII PFI, Cibubur, Jakarta, Oktober. 1985. 79-81.

Hayward. 1985. Bacterial Wilt Caused by Pseudomonas Solanacearum. Los Banos: PCARRD.

Hayward A C. 1986. Present Status of Bacterial Wilt in Indonesia. Bogor: Seminar Balai Penelitian Tanman Pangan.

Hayward. 1994. Plant Bacterial Diseases, a Diagnostic Guide. Sydney: Academy Press.

Holliday P. 1980. Fungus Diseases of Tropical Crops. Cambridge: Cambridge University Press

Machmud M dan Hayward. 1992. Bacterial Wilt in Indonesian. Los Banos. PCARRD.

Rukmana Rahmat. 1998. Kacang Tanah. Yogyakarta: Kanisius.

Saleh Nasir. 2003. Ekobiologi dan Optimalisasi Pengendalian Penyakit Virus Belang pada Kacang Tanah melalui Pengelolaan Tanaman secara Terpadu. Dalam Jurnal Litbang Pertanian 22:41-49.

Semangun Haryono. 1993. Penyakit-penyakit Tanman Pangan di Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Sumarno. 1987. Teknik Budidaya Kacang Tanah. Bandung: Sinar Baru.

www. agls.uidaho.edu/ebi/vdie/gen…s039.htm (2 Mei 2010)

www.contyhai.com.vn/htmls/techn…urPa%3D1 (2 Mei 2010)

www.jnkvv.nic.in/IPM%2520Project…nut.html (2 Mei 2010)

www.nilgs.affrc.go.jp/db/disease…de37.htm (2 Mei 2010)

www.padil.gov.au/viewPest.aspx%3…id%3d480 (2 Mei 2010)